Malam ini hujan turun cukup deras,
bisa dibilang kali ini merupakan hujan perdana setelah beberapa bulan kota ini dirundung terik dan kekeringan,
suhu udara yang kering dan kurang bisa ditolerir telah membawa saya dan seisi ibu kota ini mengalami "kekeringan"
Walaupun hujan kali ini telah membuat ibukota menjadi macet total, seperti hujan hujan yang datang sebelumnya, membuat orang orang didalamnya mengutuki dan mencaci maki nasib mereka,
tetapi disini saya merasa beruntung dan sekaligus bersyukur.
Macet dan antrian panjang memang kerap kali terjadi, dan akan menjadi tradisi tersendiri di kota ini apabila hujan datang, tapi saya sedikit banyak percaya bahwa malam ini, tidak sedikit orang orang di kota ini yang mengucapkan rasa syukurnya.
Saya kembali menengadah menatap langit malam itu, beberapa tetesan air hujan membasahi wajah saya, saya hanya tersenyum.
saya membuka gadget android saya, pemberian seorang teman baik..
saya membuka beberapa situs sosial sekaligus, semua sudah terbuka secara online, siap untuk mengupdate saya mengenai berita berita terkini yang terjadi di balahan bumi tempat saya tinggal.
Saya hanya tersenyum kecil...sama seperti bayangan saya beberapa saat yang lalu, banyak sekali orang orang disana, makhluk makhluk sosial yang melepaskan dan menceritakan uneg uneg mereka malam itu, mengenai hujan
ada yang mensumpah serapahi hujan tersebut, tapi justru tidak sedikit pula yang mengucap syukur dengan hadirnya hujan malam itu.
Satu fenomena yang saya pelajari disini adalah malam ini hujan telah membawa auranya tersendiri, aura yang dapat membawa kebahagian, menghilangkan penat sekaligus membasahi jiwa jiwa kami yang telah mengalami kekeringan. Kali ini hujan telah membuat waktu seakan melambat, membuai, membuat kami masyarakat duniawi ini menjadi memiliki waktunya sejenak untuk dapat sekedar memejamkan mata, meregangkan urat urat leher, dan juga mengistirahatkan jiwa jiwa kami yang telah menjadi kelam, menyeka luka luka hati kami yang ternyata belum sepenuhnya kering.
Yang diatas sana, memang sangat menyayangi kita, anugerah dalam bentuk hujan telah diberikannya kepada saya dan seisi kota ini. saya percaya setiap tetesan air yang turun dari langit tersebut telah membawa kesembuhan bagi jiwa jiwa kami yang berdosa ini.
Tapa saya sadari, sudah giliran saya mendapatkan taksi, renungan sesaat yang telah mengisi waktu saya barusan telah membawa saya menghadapi antrian yang dapat dibilang bak ular menari tadi. tapi kini tidak lagi, taksi yang dipilihkan oleh tuhan dan teruntuk saya telah berhenti tepat didepan saya, siap menghantarkan saya menuju rumah, rumah yang keberadaannya sering sekali saya caci maki, macet membuat semuanya tampak tidak indah dan juga tidak mudah untuk dijalani.
Kali ini, malam belum terlalu dalam, tetapi saya sudah bisa berjalan menuju rumah saya, saya nikmati keadaan kali ini, walau tubuh saya sedang tidak dalam kondisi yang prima saya tetap mensyukuri apa yang saya dapatkan hari ini, walau tumpukan pekerjaan seolah olah telah mematahkan tulang tulang saya, kali ini saya hanya ingin menikmati setiap tetesan hujan yang datang kepada saya.
sejenak saya berusaha menelaah tetes demi tetes karunia malam itu, sejenak saya memejamkan mata, saya sebenarnya tidak berani menatap keluar jendela taksi saya, taksi saya berhenti.kemacetan total telah membuatnya berhenti, argo taksi yang saya tumpangi inipun bahkan tidak bergerak. saya hanya menghela nafas, mencoba merasakan urat urat leher saya mengendur, mencoba merasakan indera indera perasa saya yang mulai menetral.
saya mencoba untuk tertidur dengan mendengarkan lagu lagu yang ada didalam handphone saya, kali ini saya memilih lagu lagu dengan nada dan tension yang sama dengan suasana hati saya. sudah dua lagu dengan irama yang pas saya dengarkan, tetapi belum juga saya dapat tertidur, sekali lagi saya menghela nafas.
Kali ini handphone saya bergetar, seorang teman yang telah memberikan saya gadget ini menghubungi saya.
saya mencoba mengatur irama suara saya. mencoba mengangkat dan menjawab panggilannya. terdengar suara dia di kejauhan.
" halo dek...." ujarnya
" hai masss...kamu apa kabar" ujar saya mencoba menjawab sapaannya
" alhamdullilah baik, kamu gimana dek disana...?"
" alhamdullilah adek baik mas..." ujar saya.
" disana hujan yah dek..kamu sudah sampai kerumah?" terdengar oleh saya dia mencoba membuka pembicaraan diantara kami.
" iya nih hujan mas, disana hujan gak..."
" nggak donk, disini terang, agak mendung sedikit sih..." ujarnya sedikit menyombong.
" saya rindu kamu dek" terdengar gelak tawanya disana, dikejauhan...renyah tetapi dalam
" kamuuu sih pake acara pindah kota segala.." ujar saya berusaha menyambung pembicaraan kami, tanpa mengindahkan ucapannya barusan, menurut saya yang seharusnya berlalu biarlah berlalu
saya ingin melangkah lagi, ucap dan janji saya di hati
kami meneruskan percakapan kami malam itu, ada rasa rindu sebagai sahabat bercampur menjadi satu dalam percakapan kami, cukup lama kami berbincang, hingga menghantarkan saya melewati kemacetan yang luar biasa malam itu. cukup sampai disini saja gumam saya, sebelum pembicaraan kami menjadi lebih dalam lagi, dan membawa luka lama kembali, Saat ini bagi saya dia tidak lebih hanya seorang sahabat sekaligus kakak untuk saya.
saya sangat bersyukur kepada tuhan atas "hujan" malam ini, yang telah membawa kembali senyum dan ketenangan kepada saya dan juga kepada seisi kota malam ini. saya menuruni taksi saya yang telah berhenti tetap didepan rumah saya, sejenak tercium oleh saya aroma tanah kering yang tersiram hujan, baunya tak dapat saya ungkapkan dengan kata kata, ada unsur magis didalamnya, sekaligus membawa ketenganan jiwa.
Tuhan memang pengasih ujar saya dalam hati.
No comments:
Post a Comment