Sayang...
kusapa kau dengan sebutan sayang, karena hatiku bergelayut menyentuh namamu..."Sayang"
dibatas keriput rembulan malam yang memerah, aku mencoba menyentuh wajahmu yang fana, sekali lagi ku memanggilmu "sayang"
ditempat ini kita bertemu,
Maya,..bukan nyata
tapi kata sayang dan kata kata manis tetap kulemparkan, karena kutahu kau memang sessosok bidadari jelita yang datang entah dari mana
tiba tiba ada diduniaku...
hanya keberuntungan yang membawamu kepadaku setelah melewati ribuan pilihan hati
aku yang kesepian ini, acuh tak acuh padamu, tiap kali kau mencariku kulemparkan kembali kata "sayang"
tapi apakah aku mencarimu, tidak sekalipun sayang, aku ini hanya bayang bayang saja. kau bahkan tidak ada di realita ku
hampir setiap pagi kau menyapaku,
kusapa kau dengan ucapan "sayang" termanja yang bisa aku tuliskan untukmu
tiga empat bait syair di dunia maya ini cukup menjadikanmu bahagia menjadi bidadariku.
bidadari fanaku yang aku pelihara
Kumulai hari hariku dengan sapaan "sayang" kepadamu
kuakhiri hari hariku tanpa mengingatmu
terkadang aku tahu kau kesal, terkadang aku tahu kau rindu padaku..
tapi maaf "sayang" aku hanya sebatas ini menyayangimu
hatiku sudah miliknya. milik dia yang sudah dengan nyata mengenalku
aku tahu kau merana, aku tahu pasti kau menginginkan aku bertemu denganmu, tapi maaf "sayang" aku hanya bisa menuliskan kata "secepatnya"
karena aku sendiri buta, aku sendiri tak berani bertemu langsung denganmu "sayang"
kau kadang tentunya berharap aku mencarimu, tapi maaf "sayang" kau hanya ufuk diujung matahariku..kau sudah memiliki tempatmu sendiri, sebatas itu
tidak bisa aku memberimu ruang lebih untuk kau lintasi
karena hanya itu bagianku untukmu
sering ku memberikan harapan kepadamu untuk bertemu denganku "sayang"
kubertanya tanpa hati " kapan kita akan bertemu sayang, aku sangat merindumu"
tapi sesungguhnya itu hanya leluconku saja untuk tetap menjaga kau ada di hidupku, tak nyata tapi tetap ada
aku sadar dengan jelas itu membumbungkan hatimu, kau dengan senangnya bertanya kapan kepadaku...
aku hanya kembali menjawab "hari ini ?" padahal dengan jelas aku tahu kau tak mungkin memenuhinya, aku senang membuaimu duhai "sayang"
maafkan aku, tapi inilah aku...
akupun sadar, bahwa sebenarnya kau sedikit banyak tahu tentang siapa aku,
tahun tentang siapa dia yang mengisi hidup dialam nyataku, aku hanya membiarkanmu
kau kadang bertanya mengenai rasa sayangku kepadamu, dan aku kembali membuat kau yang ragu menjadi percaya kepadaku..bodoh,
tapi aku suka membodohimu
kau begitu naif, begitu polos...aku tahu kau mendapati banyak fakta tentang diriku,
tapi aku hanya membiarkan saja hal itu terjadi
aku suka kau mencari tahu tentang aku sayang, dan aku hanya bisa menunggu kau akan sadar dan meninggalkan aku..
aku belum siap, tapi aku juga tak akan kecewa kalau kau meninggalkan aku..
tidak ada rasa sesungguhnya yang tersimpan untukmu, hanya fatamorgana..
cukup mengucapkan "sayang" disini
hanya itu yang bisa aku berikan untukmu
tidak bisa lebih "sayang".. maafkan aku
kuharap kau suatu hari nanti, dapat menemukan dia yang mengucapkan "sayang" kepadamu dengan segenap hatinya,
tidak seperti aku, sesosok bayangan yang memberikan hal seadanya kepadamu wahai "sayangku"
Monday, September 3, 2012
Sunday, April 22, 2012
Aku Rumit, Aku Peka, Aku suka rintik hujan, Aku suka film dimana sang perempuan mencari dan menemukan cintanya, Aku suka benda benda unik, Aku suka sesuatu yang tidak terlalu mahal tetapi indah, Aku percaya diri, Aku suka digoda, Aku suka tantangan, Aku suka menangis, Aku suka dipeluk, Aku suka pesta yang sederhana namun mendekatkanku dengan sahabat, Aku suka bergosip tentang banyak hal, Aku suka karena aku bisa berpakaian seperti pria, Aku suka saat dinginnya ice cream menyentuh bibirku, Aku suka dicium, Aku Menarik, Aku suka kalau dapat sesuatu yang gratisan, Aku Lincah dan penuh ide, Aku Ambisius, Aku suka merawat banyak Hal, Aku suka tanaman, Aku terkadang egois, Aku sangat Mandiri, Aku suka musik, Aku suka membaca ratusan hingga ribuan majalah wanita, Aku suka membuka google dan mencari tahu apa saja yang kuingin tahu, Aku suka kehangatan kamarku, Aku suka udara pagi, Aku suka hangatnya mentari, Aku Nyata... Aku adalah Wanita.
21 April 2012 - Rossy Vidian Sari
21 April 2012 - Rossy Vidian Sari
Thursday, March 8, 2012
Upload and Share !!
Upload and Share
Bangun Tidur, melihat muka masih kucel, difoto. Habis mandi, pakai baju baru yang dibeli di mangga dua, difoto. Di jalan mau berangkat kekantor, liat jalanan padat merayap, difoto. Malam hari, menangkap cakrawala jakarta dari lantai 20 kantor, difoto.
Inilah fenomena keranjingan foto menggunakan smartphone atau gadget, sebagai imbas dari melesatnya "kepopuleran" media sosial, saya adalah salah satu korbannya.
Saat ini mengabadikan moment, semudah menge-tapkan jari ke layar monitor gadget
atau menekan tombol sakti di smartphone. "Kebutuhan" baru untuk membagi moment tersebut ke media sosial sudah menjadi rahasia umum di abad dunia maya ini. Saluran ekspresi baru untuk memberitahukan khalayak tentang "status" terkini kita di facebook dan twitter, selain melalui 160 karakter, kita dapat berbagi cerita mengenai "sedang apa, dimana, dan dengan siapa kita" melalui foto. Foto memang berbicara lebih banyak daripada sekeder 160 karakter yang bisa kita ketikkan di "status update" akun sosial media kita.
Seperti yang dilakukan oleh seorang teman saya, ia tidak pernah absen memotret makanannya yang dia makan setiap kali ia dan rekan rekannya makan di luar. Alasannya sederhana, saya ingin berbagi sekaligus mengkoleksi foto foto dari makanan "keren" yang sudah pernah saya santap. Sesungguhnya kegiatan yang sedang dilakukan oleh teman saya ini adalah menjadikan foto foto makanan hasil jepretannya menjadi sebuah microblogging dalam bentuk foto.
Yang menjadikan kegiatan "jepret- menjepret" foto ini menjadi semakin populer dan mengasyikkan adalah kemudahannya untuk di-share di semua akun media dan sosial media yang kita miliki. Foto Foto makanan, seperti yang dilakukan oleh teman saya tadi, foto foto bersama teman teman kantor ketika sedang hang-out, foto bersama pacar dan keluarga terkasih, hingga foto bersama artis yang kita temui di bandara atau pusat perbelanjaan. Foto foto ini bisa langsung dipamerkan kesemua orang, hampir semua foto yang diunggah, pasti ada yang memberikan komentar atau sekedar memberikan "like" . Siapa mereka pemerhati foto "tetangga" ini, mereka adalah teman teman kita yang juga aktif di akun social dunia maya
Yang tidak kalah menarik, sebelum di-share ke akun twitter atau facebook, foto foto ini bisa diedit terlebih dahulu menggunakan instant editor yang juga sudah tersedia di smartphone kita. Foto liburan yang tadinya tampak biasa saja, jd lebih ber cerita karena ditambah ilustrasi warna dan teks. Atau mobil tua milik kakek yang teronggok digarasi bisa menjadi lebih berkesan vintage dengan efek blur dan warna kekuningan di foto itu.
Pada akhirnya, manusia yang memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial dan suka berbagi ini,akan semakin terhubung dan dimanjakan oleh "penemuan penemuan sosial " dikemudian hari. Pertanyaannya adalah, seberapa besar kesiapan kita untuk mempergunakan teknologi itu, agar hal hal yang bersifat pribadi dari kita masih bisa tersimpan rapat dan tidak "difoto" untuk konsumsi publik.
Have a nice friday
Bangun Tidur, melihat muka masih kucel, difoto. Habis mandi, pakai baju baru yang dibeli di mangga dua, difoto. Di jalan mau berangkat kekantor, liat jalanan padat merayap, difoto. Malam hari, menangkap cakrawala jakarta dari lantai 20 kantor, difoto.
Inilah fenomena keranjingan foto menggunakan smartphone atau gadget, sebagai imbas dari melesatnya "kepopuleran" media sosial, saya adalah salah satu korbannya.
Saat ini mengabadikan moment, semudah menge-tapkan jari ke layar monitor gadget
atau menekan tombol sakti di smartphone. "Kebutuhan" baru untuk membagi moment tersebut ke media sosial sudah menjadi rahasia umum di abad dunia maya ini. Saluran ekspresi baru untuk memberitahukan khalayak tentang "status" terkini kita di facebook dan twitter, selain melalui 160 karakter, kita dapat berbagi cerita mengenai "sedang apa, dimana, dan dengan siapa kita" melalui foto. Foto memang berbicara lebih banyak daripada sekeder 160 karakter yang bisa kita ketikkan di "status update" akun sosial media kita.
Seperti yang dilakukan oleh seorang teman saya, ia tidak pernah absen memotret makanannya yang dia makan setiap kali ia dan rekan rekannya makan di luar. Alasannya sederhana, saya ingin berbagi sekaligus mengkoleksi foto foto dari makanan "keren" yang sudah pernah saya santap. Sesungguhnya kegiatan yang sedang dilakukan oleh teman saya ini adalah menjadikan foto foto makanan hasil jepretannya menjadi sebuah microblogging dalam bentuk foto.
Yang menjadikan kegiatan "jepret- menjepret" foto ini menjadi semakin populer dan mengasyikkan adalah kemudahannya untuk di-share di semua akun media dan sosial media yang kita miliki. Foto Foto makanan, seperti yang dilakukan oleh teman saya tadi, foto foto bersama teman teman kantor ketika sedang hang-out, foto bersama pacar dan keluarga terkasih, hingga foto bersama artis yang kita temui di bandara atau pusat perbelanjaan. Foto foto ini bisa langsung dipamerkan kesemua orang, hampir semua foto yang diunggah, pasti ada yang memberikan komentar atau sekedar memberikan "like" . Siapa mereka pemerhati foto "tetangga" ini, mereka adalah teman teman kita yang juga aktif di akun social dunia maya
Yang tidak kalah menarik, sebelum di-share ke akun twitter atau facebook, foto foto ini bisa diedit terlebih dahulu menggunakan instant editor yang juga sudah tersedia di smartphone kita. Foto liburan yang tadinya tampak biasa saja, jd lebih ber cerita karena ditambah ilustrasi warna dan teks. Atau mobil tua milik kakek yang teronggok digarasi bisa menjadi lebih berkesan vintage dengan efek blur dan warna kekuningan di foto itu.
Pada akhirnya, manusia yang memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial dan suka berbagi ini,akan semakin terhubung dan dimanjakan oleh "penemuan penemuan sosial " dikemudian hari. Pertanyaannya adalah, seberapa besar kesiapan kita untuk mempergunakan teknologi itu, agar hal hal yang bersifat pribadi dari kita masih bisa tersimpan rapat dan tidak "difoto" untuk konsumsi publik.
Have a nice friday
Tuesday, March 6, 2012
Alismu vs Alisku
Alismu vs Alisku
Perkara alis yang sebenarnya sangat sepele bisa menjadi besar dan heboh karena keberadaannya yang sesekali mampu menyulap ekspresi wajah seseorang menjadi tidak enak dipandang atau justru menjadi sangat enak untuk dipandang. Seringkali kita tidak kenal dengan alis kita sendiri, yang terfikirkan oleh kita adalah : "wah alisnya bagus yah, alisnya keren banget tebal dan rapi, wowwww alisnya runcing dan tipis yaa".
Inilah yang namanya sindrom alis tetangga diseberang rumah, atau didalam televisi selalu terlihat lebih bagus. Padahal, seiring dengan rencana tuhan yang menciptakan kita berbeda beda disetiap individunya, begitu pula alis kita diciptakan unik oleh-Nya mengikuti keistimewaan dalam diri kita. Nah jadi kalau alis Tyra Banks yang tampak seksi dan mencuat tinggi di wajahnya itu tampak serasi dengan mata dan bentuk wajahnya, belum tentu alis itu akan terlihat cocok dan sama mempesonanya di wajah kita.
pernah suatu kali saya sedang berjalan keliling sebuah mall mewah dibilangan Jakarta Pusat, terlihat oleh saya banyak ibu ibu muda dan paruh baya dengan dandanan yang "fantastis". Saya sangat yakin mereka adalah sosialita, atau paling tidak istri pengusaha sukses yang kesepian sehingga berjalan jalan ke mall untuk sekedar mengisi waktu kosong mereka. Ada beberapa kesamaan diantara mereka yang tertangkap oleh radar saya. Tas Hermes berbagai warna yang saya tidak begitu paham itu asli atau aspal, yang jelas tas tas mewah itu menempel dengan manisnya di lekukan tangan mereka, dan aksesories mahal kedua yang mereka kenakan adalah " alis mencuat yang ter-tatto di wajah mulus mereka". Wow fenomena alis tatto yang sangat praktis, tidak perlu dirapikan, tidak perlu diberi warna dan diurus secara khusus ketika akan bepergian.
Yang menggelitik pikiran saya adalah kalau saja alis alis tatto ini dibuat mengikuti bentuk alis artis dan model papan atas dunia sebut saja Kate Moss, dan ternyata tidak cocok dengan bentuk wajah kita, apa ya jadinya?
Males khan punya alis yang sudah menempel permanen tetapi selalu terlihat tegang dan mencuat bahkan ketika kita bangun tidur.
Akhir cerita, saya mencoba untuk membuka beberapa majalah wanita yang terbit diawal tahun 2012 ini, dan menemukan sebuah kalimat lucu di halaman fashion " tren alis di tahun naga, semakin tebal, semakin tinggi, alis tipis dan tajam sudah ketinggalan zaman". Saya hanya tertawa membacanya. Dimana kebebasan untuk berekspresi di masa ini? kalau untuk memiliki alis saja, kita harus diseragamkan mengikuti trend mode dunia, yang jelas jelas belum tentu cocok dengan kita.
Perkara alis yang sebenarnya sangat sepele bisa menjadi besar dan heboh karena keberadaannya yang sesekali mampu menyulap ekspresi wajah seseorang menjadi tidak enak dipandang atau justru menjadi sangat enak untuk dipandang. Seringkali kita tidak kenal dengan alis kita sendiri, yang terfikirkan oleh kita adalah : "wah alisnya bagus yah, alisnya keren banget tebal dan rapi, wowwww alisnya runcing dan tipis yaa".
Inilah yang namanya sindrom alis tetangga diseberang rumah, atau didalam televisi selalu terlihat lebih bagus. Padahal, seiring dengan rencana tuhan yang menciptakan kita berbeda beda disetiap individunya, begitu pula alis kita diciptakan unik oleh-Nya mengikuti keistimewaan dalam diri kita. Nah jadi kalau alis Tyra Banks yang tampak seksi dan mencuat tinggi di wajahnya itu tampak serasi dengan mata dan bentuk wajahnya, belum tentu alis itu akan terlihat cocok dan sama mempesonanya di wajah kita.
Yang menggelitik pikiran saya adalah kalau saja alis alis tatto ini dibuat mengikuti bentuk alis artis dan model papan atas dunia sebut saja Kate Moss, dan ternyata tidak cocok dengan bentuk wajah kita, apa ya jadinya?
Males khan punya alis yang sudah menempel permanen tetapi selalu terlihat tegang dan mencuat bahkan ketika kita bangun tidur.
Akhir cerita, saya mencoba untuk membuka beberapa majalah wanita yang terbit diawal tahun 2012 ini, dan menemukan sebuah kalimat lucu di halaman fashion " tren alis di tahun naga, semakin tebal, semakin tinggi, alis tipis dan tajam sudah ketinggalan zaman". Saya hanya tertawa membacanya. Dimana kebebasan untuk berekspresi di masa ini? kalau untuk memiliki alis saja, kita harus diseragamkan mengikuti trend mode dunia, yang jelas jelas belum tentu cocok dengan kita.
Hafalan Semata
Beberapa hari yang lalu saya dan adik perempuan saya melakukan aktifitas "bersih bersih" rumah seperti yang biasa kami lakukan setiap akhir minggu.
Tidak seperti minggu minggu sebelumnya, kali ini objek "bersih bersih" kami adalah album foto tua milik keluarga dan juga beberapa buku pelajaran tua milik saya yang masih tersimpan rapi didalam kardus dipojok ruangan penyimpanan kami.
Saat adik saya menyeletuk " Mbak ada buku matematika SMP kelas 3 nich, punya mbak dulu sepertinya". Saya segera mengambil buku tersebut. Masih tampak terlihat rapi dengan balutan sampul plastik yang menguning. Halaman halaman buku ini masih lengkap, didalam buku itu juga masih terlihat dengan jelas bekas coretan coretan tangan saya semasa sekolah dulu. Yang menggelitik saya kali ini ketika memegang buku tersebut adalah, hampir semua pertanyaan dan soal soal yang ada didalam buku sudah saya bubuhkan jawaban beserta cara menjawabnya dengan tinta biru andalan saya. Saya jadi ingat sekitar 13 tahun yang lalu, seorang teman saya yang tidak terlalu mahir matematika berceloteh " huh buat apa belajar matematika? Toh kalau mau beli sayur dipasar kita tidak pake istilah log atau integral, cukup tambah kali bagi dan kurang saja kita bisa hidup ". Saya tersenyum sendiri mengingat celotehan lama itu. Ada benarnya ucapan itu, karena apabila kita melakukan napak tilas ke masa masa sekolah kita, tidak usah masa kita, cukup kita lihat masa kini. Pendidikan exact seperti Ilmu pengetahuan Alam dan Matematika intinya adalah menghafal rumus.
Lihat saja logika dari kertas pelajaran kali kalian yang dulu saya dan teman teman perlombakan didepan kelas " siapa yang sudah hafal kalian 3 dan 7?" Saat itu ibu guru bertanya kepada kami, dan seisi kelas menaikkan jari telunjuknya sebagai pertanda mereka telah meng-HAFAL pelajaran itu dengan baik.
Tetapi yang menggelitik saya kali ini, mengapa dulu ibu guru tidak bertanya "mengapa 3 x 3 sama dengan 9? Darimana kamu tahu hasilnya demikian, bisa dipakai saat apa 3x3 sama dengan 9 tersebut?" Mungkin apabila pertanyaan tersebut sempat terlontar, anak anak seusia saya waktu itu bisa jadi lebih kritis dan tidak langsung percaya 3x3 adalah 9 dan yang pasti tidak mengfahal pelajaran matematika kami.
Pada akhirnya, ilmu yang kita dapatkan hanya text book, kita belum benar benar memahami esensi dari ilmu alam yang mungkin akan berguna bagi kita yang bercita cita menjadi penemu, dan ilmuwan di masa yang akan datang.
Bimbing dan temani anak anak dan adik adik terkasih kita, kembangkan logika dan otak kanan mereka, sehingga kita bisa membantu negara ini menciptakan generasi yang unggul dan tahu benar apa yang menjadi bekal mereka dalam menyongsong masa depan.
Saya menutup buku tersebut dan bertanya pada adik saya " kenapa 7 x 7 sama dengan 49?" Adik saya hanya menjawab " ya itu yang tertulis di karton hafalan yang mama belikan di pasar dulu".
Saya hanya tersenyum, dan membelai rambutnya dengan lembut, seraya menjawab pertanyaan saya sendiri " karena kalau kamu punya 7 apel, terus ditambah 6 apel lagi oleh masing masing teman kamu yang berjumlah 6 orang maka apel milikmu akan jd 49 buah dek". Mimik bingung terlihat jelas diwajahnya...
Tidak seperti minggu minggu sebelumnya, kali ini objek "bersih bersih" kami adalah album foto tua milik keluarga dan juga beberapa buku pelajaran tua milik saya yang masih tersimpan rapi didalam kardus dipojok ruangan penyimpanan kami.
Saat adik saya menyeletuk " Mbak ada buku matematika SMP kelas 3 nich, punya mbak dulu sepertinya". Saya segera mengambil buku tersebut. Masih tampak terlihat rapi dengan balutan sampul plastik yang menguning. Halaman halaman buku ini masih lengkap, didalam buku itu juga masih terlihat dengan jelas bekas coretan coretan tangan saya semasa sekolah dulu. Yang menggelitik saya kali ini ketika memegang buku tersebut adalah, hampir semua pertanyaan dan soal soal yang ada didalam buku sudah saya bubuhkan jawaban beserta cara menjawabnya dengan tinta biru andalan saya. Saya jadi ingat sekitar 13 tahun yang lalu, seorang teman saya yang tidak terlalu mahir matematika berceloteh " huh buat apa belajar matematika? Toh kalau mau beli sayur dipasar kita tidak pake istilah log atau integral, cukup tambah kali bagi dan kurang saja kita bisa hidup ". Saya tersenyum sendiri mengingat celotehan lama itu. Ada benarnya ucapan itu, karena apabila kita melakukan napak tilas ke masa masa sekolah kita, tidak usah masa kita, cukup kita lihat masa kini. Pendidikan exact seperti Ilmu pengetahuan Alam dan Matematika intinya adalah menghafal rumus.
Lihat saja logika dari kertas pelajaran kali kalian yang dulu saya dan teman teman perlombakan didepan kelas " siapa yang sudah hafal kalian 3 dan 7?" Saat itu ibu guru bertanya kepada kami, dan seisi kelas menaikkan jari telunjuknya sebagai pertanda mereka telah meng-HAFAL pelajaran itu dengan baik.
Tetapi yang menggelitik saya kali ini, mengapa dulu ibu guru tidak bertanya "mengapa 3 x 3 sama dengan 9? Darimana kamu tahu hasilnya demikian, bisa dipakai saat apa 3x3 sama dengan 9 tersebut?" Mungkin apabila pertanyaan tersebut sempat terlontar, anak anak seusia saya waktu itu bisa jadi lebih kritis dan tidak langsung percaya 3x3 adalah 9 dan yang pasti tidak mengfahal pelajaran matematika kami.
Pada akhirnya, ilmu yang kita dapatkan hanya text book, kita belum benar benar memahami esensi dari ilmu alam yang mungkin akan berguna bagi kita yang bercita cita menjadi penemu, dan ilmuwan di masa yang akan datang.
Bimbing dan temani anak anak dan adik adik terkasih kita, kembangkan logika dan otak kanan mereka, sehingga kita bisa membantu negara ini menciptakan generasi yang unggul dan tahu benar apa yang menjadi bekal mereka dalam menyongsong masa depan.
Saya menutup buku tersebut dan bertanya pada adik saya " kenapa 7 x 7 sama dengan 49?" Adik saya hanya menjawab " ya itu yang tertulis di karton hafalan yang mama belikan di pasar dulu".
Saya hanya tersenyum, dan membelai rambutnya dengan lembut, seraya menjawab pertanyaan saya sendiri " karena kalau kamu punya 7 apel, terus ditambah 6 apel lagi oleh masing masing teman kamu yang berjumlah 6 orang maka apel milikmu akan jd 49 buah dek". Mimik bingung terlihat jelas diwajahnya...
Thursday, October 13, 2011
Me
i'm not special woman but i have special soulmate (i do belive in that), I'm not popular, but I have good friends. I'm not rich, but I have what I need. I may not be liked, but I know I'm loved. I'm perfect in my imperfections, happy in my pain, strong in my weaknesses, and beautiful in my own way... I am ME! i'm just yours اَللّهُ SWT
Friday, August 5, 2011
Lost in Weekend
Sabtu Pagi yang indah
aku terbangun dari tempat tidurku,
rasa nyaman masih terus memaksaku untuk berkemul dan bercinta dengan selimutku..
kamar ini sudah sangat terang dan hangat terisi sinar mentari
apa yang kan kulakukan hari ini?
sebuah tanda tanya besar mulai menggangu pagiku...
ke salon? potong rambut?
uhmm.. tampaknya bukan gagasan yang bagus
terus bermalasa malasan seharian dirumah?
tampaknya itu adalah pilihan yang bagus untuk memulai hari ini....
ahhhh...tugas kanor masih saja membebani hari hariku, aku terdiam....
lebih baik aku membuka laptop dan mengerjakannya dulu , dan memulai weekendku...
sebenarnya aku sendiri juga tidak paham apa yang akan kulakukan hari ini....
Goshh... im lost in my weekend
aku terbangun dari tempat tidurku,
rasa nyaman masih terus memaksaku untuk berkemul dan bercinta dengan selimutku..
kamar ini sudah sangat terang dan hangat terisi sinar mentari
apa yang kan kulakukan hari ini?
sebuah tanda tanya besar mulai menggangu pagiku...
ke salon? potong rambut?
uhmm.. tampaknya bukan gagasan yang bagus
terus bermalasa malasan seharian dirumah?
tampaknya itu adalah pilihan yang bagus untuk memulai hari ini....
ahhhh...tugas kanor masih saja membebani hari hariku, aku terdiam....
lebih baik aku membuka laptop dan mengerjakannya dulu , dan memulai weekendku...
sebenarnya aku sendiri juga tidak paham apa yang akan kulakukan hari ini....
Goshh... im lost in my weekend
Subscribe to:
Posts (Atom)






