Semangkuk Cireng Panas yang baru saja digoreng
menghangatkan tenggorokan saya sore ini
ditemani oleh secangkir teh manis hangat
saya menyantap beberapa dari cireng yang tersuguh apik didepan saya
satu persatu saya nikmati
diselingi hangatnya teh yang membasahi tenggorokan saya
makanan sederhana ini, memberikan catatan sederhana kepada saya
catatan mengenai hidup yang saya dan manusia lainnya jalani.
terbuat dari bahan sederhana, diolah secara sederhana dan disuguhkan secara apik
siapapun yang mau bisa membuatnya,
siapapun yang menyukainya bisa menyantapnya seperti saya sore ini
siapapun yang menginginkannya tidak akan kesulitan untuk mendapatkannya
jauh dari kesan makanan mewah yang saya makan beberapa waktu yang lalu
makanan mewah yang tidak mengenyangkan sekaligus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah
tentu saja jauh diluar jangkauan penggemar cireng yang sekedar stop sepulang kerja
dan mengeluarkan uang 5000 perak lusuh dari koceknya
untuk menyantap makanan kampung ini dengan puas.
Saya perhatikan cireng yang saya makan kali ini
putih dan hangat, hanya saja dibeberapa bagian ada butiran butiran berwarna hitam kecoklatan
entahlah...
apakah itu kotoran dari minyak yg digunakan
apakah itu merupakan bumbu penyedap yang ditambahkan pada saat pengolahan
yang jelas, begitulah hidup
walau tampak putih dan jauh dari masalah, apabila kita perhatikan masih ada bercak bercak pengotor yang menempel didalam dan juga dipermukaannya
ada beberapa yang tampak lebih banyak dibagian luar
tetapi ada juga bercak pengotor yang tampak terlihat lebih banyak dibagian dalam cireng ini
setiap cireng yang tersuguh dihadapan saya sore ini
walau tampak serupa , tentu saja tidak sama
sejenak saya mencoba memperhatikan bentuknya
indeed SERUPA TAPI TAK SAMA
sama seperti manusia, tampak sama diluar dan bentukannya
tetapi memendam cerita dan noktah yang berbeda beda
sama seperti makanan ini,
tentunya tidak mungkin bukan, ketika saya memutuskan untuk menelan salah satu dari mereka
saya harus membuka dan melepaskan bintik bintik pengotornya satu persatu
justru saya sadari, beberapa diantara pengotor itu justru yang membuat cireng ini menjadi nikmat untuk disantap
begitulah hidup, tidak terlepas dari "Pengotor Pengotornya"
pengotor yang tidak dapat kita pilih akan berada dibagian dalam atau justru hanya dipermukaan hidup kita.
yang bisa kita lakukan, santap dan nikmati..
karena kombinasi dari bahan sederhana, pengolahan sederhana dan beberapa bercak pengotor yang ada didalamnya justru membuat hidup kita menjadi lengkap dan nikmat
Saya menutup laptop saya sore ini, kembali menyantap satu buah cireng yang sudah mulai dingin
saya bergumam dalam hati, ini yang terakhir
Catatan Cireng, 2013
RVS
No comments:
Post a Comment