Monday, May 13, 2013

Pencitraan Materi

Beberapa hari yang lalu ketika saya pulang dari rumah teman saya
saya ingat sekali, hampir larut..ayah saya bahkan sudah menanyakan dimana keberadaan saya.

seorang teman dekat mengirimkan pesan singkat kepada saya,
sekedar menyapa dan menanyakan keadaan saya
saya sempat mengernyitkan dahi saya, semalam ini dia belum tidur?
ah mungkin dia juga barusan selesai menikmati malam minggu kali ini sama seperti saya.

ketika menggaungkan nama sahabat saya ini dikepala, seketika saya langsung teringat dengan curhatan dan cerita dia sekitar setahun yang lalu kepada saya.

Sahabat saya ini bisa dibilang  berasal dari keluarga kaya raya. Dia diberikan anugerah oleh tuhan untuk bisa membeli puluhan bahkan ratusan baju dan sepatu hasil rancangan desainer ternama yang mendunia, dengan mudahnya dan tanpa melihat dan mengintip koceknya. Saat itu seorang teman memperkenalkan dia dengan  pria yang tidak kalah kaya dengan dia, sepadan ujar mereka.
teman saya itu menceritakan detil pertemuan dia dan pria tersebut di kencan pertama mereka.

Sahabat saya ini terus mengupdate saya dengan cerita cerita yang terjadi selama kencan mereka,
sang pria menjemputnya dengan mobil terkini yang dapat dibilang tidak akan dapat dibeli oleh orang awam seperti saya. Harganya selangittttt..

Sahabat saya pun memulai date nya malam itu dengan bersolek menggunakan make up high class berharga puluhan juta, gaun gaun satin dan tas bermerk desainer dunia, tidak lupa malam itu dia mengenakan sepatu nan mahal yang sepertinya memang diperuntukkan untuk dipamerkan, tetapi bukan untuk membantu seseorang berjalan, mengapa demikian?
tentunya kita sama sama mengetahui sepatu sepatu mahal jenis itu.
sahabat saya menceritakan dengan detil kepada saya, bahwa kakinya terluka dan sakit setiap kali dia melangkahkan kakinya dengan sepatu nan mahal itu.

tentu saja, malam itu mereka makan direstoran mewah disalah satu hotel bintang lima di kota ini, yang pada saat saya tanya, harga per sekali makan disana bisa merogoh kocek sang pria hingga jutaan rupiah, cukup fantastis untuk sebuah makan malam. Mereka jelas menikmati makanan tersebut, mereka jelas menikmati suasana romantis yang dihadirkan di restoran mewah itu, tapi mereka jarang dan hampir tidak berbicara satu sama lain. Mereka malah saling asyik dengan gadget mewah mereka masing masing, sahabat saya ini justru mem-bbm saya dan bercerita bahwa mereka tak banyak bicara malam itu, saya sempat mencibir dalam hati "kencan macam apa itu..", sahabat saya ternyata tidak menikmati malam penuh taburan uang saat itu.
Kencan yang terkadang menjadi dambaan orang orang awam seperti saya.

Ternyata dia tidak suka makanannya, dia tidak suka pakaian dan sepatu yang ia kenakan, karena harus memaksa dia untuk tidak menjadi dirinya sendiri, dia tidak suka dijemput oleh mobil mewah milik pria itu, dia bahkan bercerita dia hampir terjerembab karena mobil tersebut relatif tinggi dan sangat tidak sesuai dengan tubuh mungilnya yang saat itu mengenakan sepatu super duper tidak nyaman tersebut.
" Lo bayangin pas gw turun dari mobil itu, gw hampir tersungkur oci.."
ujarnya, sayapun hanya tertawa membaca bbm dari dia malam itu.

Mendengar keluh kesahnya, saya lantas berujar.
" Yasudah , kita ngedate aja minggu depan, tapi lo gak usah pake sepatu mematikan itu, gak usah pake dres-dresaan segala, kita pake kaos, sendal jepit and jeans saja, kita naik mobil aku aja, gak usah pake alphardmu itu...kita makan nasi goreng di tebet aja yuk, aku tahu ada yang enak, kamu pasti suka.."

sahabat saya itu, menyanggupi ajakan saya tanpa ragu,

Seminggu kemudian, kami "berkencan" , kencan kami kali ini diisi oleh percakapan yang hangat seputar dunia kami,
kami penuhi perut perut karet kami dengan makan di warung pinggir jalan, menggerai rambut kami yang terurai panjang saat itu, cukup mengenakan kaos dan celana jeans. Itu saja kami mampu menciptakan romantika antar dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu.

Kami duduk bersila disana tanpa adanya pencitraan diri yang berlebihan untuk menciptakan impresi duniawi.

Setahun yang lalu, walau kami duduk di pinggir jalan, kami sama sekali tidak khawatir dengan apa yang orang pikirkan tentang siapa kami, apa yang kami kenakan, apa yang kami makan, disana kami melucuti semua atribut duniawi dan material yang menempel di tubuh kami.

Kami hanya berusaha menjadi diri kami apa adanya, itu yang saya suka dari dia
kemewahan duniawi tidak mengubah "isi" dari sahabat saya ini.
semoga dimasa yang akan datang, hal yang sama akan tetap bertahan dalam diri dan jiwa saya

No comments:

Post a Comment